Cawako MAHYELDI, miskin titel miskin prestasi...?
Oleh. Muhammad alexfardi syarif.
Ada pendapat yang berkembang di masyarakat kita saat ini,bahwa orang yang
pintar dan yang hebat itu dilihat dari gelar akademis yang dimilikinya, semakin
banyak gelar yang dimiliki, maka semakin bagus pula persepsi masyarakat
terhadapnya, entah itu gelar S1, S2, atau S3.
Namun sayang sekali dengan banyaknya gelar akademis yang dipunyai kadang tak
sebanding dengan prestasi yang dimiliki atau yang telah dicapai, bahkan tidak
sedikit yang minim prestasi bahkan mungkin tak punya sama sekali, hanya gelar
yang tersemat didepan atau dibelakang nama yang bersangkutan. Bila ditanya apa
yang telah mereka sumbangkan untuk masyarakat, jawabnya hanya geleng-geleng
kepala atau sekedar garuk-garuk kepala, meski kepalanya tak gatal, miris.
Kalau kita lihat lebih jauh lagi dalam sejarah, pemberian gelar akademis itu
tidaklah dikenal pada abat-abat pertengahan dimana ketika itu marcusuar cabang
semua keilmuan masih terpusat di dunia islam, kita mengenal, Ibnu batutah,
Ar-razi, Ibnu haitam, Jabir ibnu hayyan, Al kindi, Al biruni, AL khawarizmi, Al
farabi, Abdul wafa ibnu yahya, Ibnu sina, Omar alkhayyan, dan lain-lainnya.
Apakah didepan atau dibelakang nama mereka ada gelarnya...tentu tidak.Tapi
jangan tanya apa saja karya yang telah mereka sumbangkan, kita jelas akan
terkagun-kagum karenanya, karya-karya mereka menjadi pijakan bagi kita dalam
memahami ilmu-ilmu yang ada dan berkembang saat ini.
Adalah sekolah-sekolah tinggi teologi di Roma, yang memperkenalkan pertama
kali, pemberian gelar akademis kepada lulusan sekolah tingginya. Hal itu mereka
lakukan untuk memudahkan mereka dalam identifikasi serta spesialisasi keilmuan
yang dikuasai, lambat laun hal ini diikuti oleh sekolah-sekolah tinggi umum
lainnya di eropa barat dan eropa timur, itu terjadi dipertengahan Abat 18.
Dan hari ini kita melihat orang berlomba-lomba mengejar gelar ataupun titel,
sayangnya miskin prestasi,kapasitas penguasaan keilmuannya pun terbatas dalam
jumlah sks yang telah mereka lewati, lagi-lagi bukan prestasi yang menjadi
acuan, bukan sumbangsih pemikiran mereka kepada masyarakat yang menjadi
patokan.
Memang untuk mencari seorang pemimpin yang menguasai segala bidang sangatlah
sulit dewasa ini, akan tetapi kita bisa melihat, dari apa yang telah dilakukan
serta apa saja sumbangsih mereka kepada masyarakat, ketimbang melihat
gelar-gelar akademis, ini akan lebih adil, lebih bijak, lebih jelas dan lebih
pantas.
Kami melihat bahwa Bapak Mahyeldi, meskipun bergelar S1, beda dengan kandidat
lain, telah melakukan banyak hal. Salah satu program-program beliau yang nyata
adalah program keliling solat subuh berjamaah, setiap hari yang beliau lakukan,
kita ketahui bersama begitu banyak fadilah (keutamaan) yang didapat dari solat
subuh berjamaah, pada kesempatan
ini pula beliau mendengar keluhan-keluhan, saran-saran, kritik atau pendapat
warganya terhadap program yang telah dijalankan maupun yang akan dijalankan,
atau sekedar bercengkrama dengan warganya, ini simpel, kecil, mudah, tapi
mengena...namun hanya mampu dilakukan oleh orang yang ikhlas saja.
Kami bukanlah tim sukses Mahyeldi-Emzalmi, kami bukan pula keluarga beliau,
atau kerabat beliau, kami bukan pula orang dekat beliau, mungkin kalau nama
kami disebut apakah beliau mengenal kami, dipastikan beliau akan menjawab
tidak, hanya kami yang mengenal beliau yakni sebagai tokoh publik wawako kota
padang.
Satu lagi, tentang siloam, sedari awal beliau berada bersama masyarakat,
menentang misi-misi yang akan merugikan akidah dan ekonomi masyarakat kota
padang, sumatera barat pada umumnya, meskipun harus berhadapan dengan sang
walikota saat ini dan juga para legislator yang katanya mewakili rakyat tapi
nyatanya...
Bagaimana denga kandidat lain....? kami tak tahu...!
(penulis Novel "Sayang tak pernah indah diawal")